Wilayah Sampit sejak dahulu merupakan bagian dari kawasan budaya Dayak yang berada di sepanjang aliran sungai besar di Kalimantan. Sungai menjadi jalur transportasi utama serta pusat kehidupan masyarakat.
Salah satu sungai yang memiliki peran penting adalah Sungai Mentaya, yang menjadi jalur perdagangan sekaligus penghubung antar komunitas.
Pada masa lampau, masyarakat Dayak hidup dalam komunitas yang disebut kampung adat yang dipimpin oleh kepala adat atau damang.
Kehidupan masyarakat Dayak saat itu sangat bergantung pada:
pertanian ladang berpindah
hasil hutan
berburu dan menangkap ikan
perdagangan antar suku
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat juga menjalankan berbagai aturan adat yang dikenal sebagai hukum adat Dayak. Aturan ini mengatur hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pernikahan, pembagian tanah, hingga penyelesaian konflik.
Hukum adat tersebut masih diakui hingga sekarang dan sering menjadi bagian dari sistem sosial masyarakat di Kalimantan Tengah.
Salah satu simbol paling terkenal dalam budaya Dayak adalah Huma Betang.
Huma Betang merupakan rumah panjang tradisional yang dihuni oleh banyak keluarga dalam satu bangunan besar.
Rumah ini biasanya dibangun dari kayu ulin yang sangat kuat dan dapat bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun.
Dalam satu Huma Betang bisa tinggal:
puluhan keluarga
beberapa generasi
komunitas yang hidup bersama
Namun Huma Betang bukan hanya tempat tinggal. Rumah ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Dayak yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
Versi yang paling banyak diyakini oleh masyarakat setempat adalah keberadaan sebuah kerajaan kuno bernama Kerajaan Sungai Sampit 1. Menurut legenda yang masih hidup, kerajaan ini diperintah oleh seorang raja bernama Raja Bungsu dan memiliki dua putra, yaitu Lumuh Sampit (laki-laki) dan Lumuh Langgana (perempuan). Tragisnya, kerajaan ini dikisahkan runtuh akibat perebutan kekuasaan di antara kedua saudara kandung tersebut 2.
Lokasi kerajaan ini diperkirakan berada di Desa Bagendang Hilir Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Hal itu didukung dengan temuan bukti fisik berupa tiang kayu ulin besar yang diyakini sebagai tiang bendera kerajaan dan pecahan keramik kuno yang mengindikasikan bahwa Kerajaan Sampit sudah menjalin hubungan dagang dengan orang-orang dari China, India dan bahkan Portugis dimasa itu 2 .
Catatan sejarah tertulis yang tak kalah penting datang dari Kerajaan Majapahit. Dalam kitab Kakawin Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M, disebutkan beberapa daerah di Kalimantan yang menjadi bagian dari ekspedisi atau wilayah pengaruh Majapahit. Salah satu tempat yang disebut adalah Sampit dan Kuala Pembuang 2 3 . Hal ini menunjukkan bahwa pada abad ke-14, wilayah Sampit sudah menjadi entitas yang dikenal dalam jaringan politik dan perdagangan Nusantara, bahkan disebut sebagai salah satu negeri yang ditaklukkan oleh Patih Gajah Mada dalam sumpah palapanya 1 4 .
Keberadaan Kerajaan Sungai Sampit ini diperkirakan lebih tua dari Kerajaan Negara Dipa (pendahulu Kesultanan Banjar) di abad ke-14. Konon, kala Putri Junjung Buih dari Kerajaan Negara Dipa hendak menikah dengan Pangeran Suryanata, terdapat 40 kerajaan besar dan kecil yang ingin menyerang, termasuk kerajaan-kerajaan dari wilayah Kotawaringin. Namun, mereka berhasil ditaklukkan dan sejak itu menjadi wilayah pengaruh (vazal) Kerajaan Banjar 2 .
Babak baru sejarah dimulai pada abad ke-17, yang menjadi fondasi bagi struktur pemerintahan di wilayah ini. Kesultanan Kotawaringin berdiri tidak lepas dari dinamika politik di Kesultanan Banjar.
Pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah dari Banjar (sekitar akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17), terjadi konflik internal terkait suksesi kekuasaan. Pangeran Dipati Antakusuma, putra sultan, gagal merebut takhta dari saudaranya, Pangeran Adipati Tuha 5 6. Karena alasan itulah, ia memutuskan untuk meninggalkan istana dan mencari wilayah baru.
Setelah melakukan perjalanan panjang menyusuri pantai selatan Kalimantan, melewati Sampit, Pembuang, dan Mendawai, rombongan Pangeran Antakusuma akhirnya sampai di wilayah Sungai Arut. Di sana, mereka disambut oleh Dipati Ngganding, seorang penguasa lokal yang juga saudara iparnya. Atas kesepakatan dan restu dari penguasa lokal Suku Dayak, Pangeran Antakusuma kemudian mendirikan kerajaan baru di Kotawaringin Lama pada tahun 1673 5 7 4.
Sebagai raja pertama Kesultanan Kotawaringin, ia bergelar Pangeran Ratu I. Peristiwa penting ini menandai dimulainya era Kesultanan Kotawaringin yang wilayah kekuasaannya membentang luas meliputi pantai barat daya Kalimantan, termasuk daerah-daerah seperti Sampit, Mendawai, dan Pembuang yang saat ini masuk dalam wilayah Kotawaringin Timur 5 6.
Pengaruh Kesultanan Kotawaringin, yang merupakan cabang dari Kesultanan Banjar, sangat kuat dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Kalimantan Tengah. Masuknya Islam ke wilayah Kotawaringin Timur tidak terlepas dari statusnya sebagai bagian dari kesultanan. Bahkan, pada tahun 1844, tercatat cukup banyak penduduk di sepanjang Sungai Mentaya (seperti di Tanah Hambau, Tangar, dan Pahirangan) yang telah memeluk agama Islam. Bukti-bukti arkeologis berupa kuburan tua dengan nisan bercorak Islam di Mentaya Seberang dan Sungai Lenggana juga menjadi petunjuk awal penyebaran Islam di wilayah ini, dengan beberapa nisan diperkirakan berasal dari akhir abad ke-17 Masehi 2.
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, wilayah Kesultanan Kotawaringin, termasuk daerah timurnya, mulai terintegrasi ke dalam sistem administrasi kolonial. Belanda menempatkan wilayah ini sebagai bagian dari Karesidenan Selatan dan Timur Borneo 8.
Meskipun kekuasaan formal kesultanan masih diakui secara terbatas, Belanda mulai melakukan intervensi dan memperkenalkan struktur pemerintahan modern seperti pembentukan distrik dan onderdistrict. Pada periode ini, Sampit mulai tumbuh sebagai kota pelabuhan yang penting, terutama setelah Belanda berhasil menghancurkan gerombolan bajak laut di sekitar Teluk Kumai dan Tanjung Puting pada tahun 1836, yang sebelumnya kerap mengganggu pemukiman di muara sungai 2.
Interaksi dengan pedagang asing, terutama Cina, juga semakin intensif. Mereka tidak hanya menetap di Sampit, tetapi juga merambah hingga ke Samuda, mengembangkan perkebunan dan perdagangan, serta memperkaya mosaik budaya di Kotawaringin Timur yang mulai bersifat multi-etnik 3.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, sistem pemerintahan kembali mengalami perubahan besar. Pada tahun 1957, Provinsi Kalimantan Tengah resmi dibentuk, dan wilayah Kotawaringin menjadi bagian darinya 8.
Nama “Kotawaringin Timur” sendiri mulai digunakan secara resmi seiring dengan pemekaran wilayah administratif. Awalnya, terdapat Kabupaten Kotawaringin yang wilayahnya sangat luas. Kemudian, berdasarkan pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah, wilayah ini dipecah. Secara resmi, Kotawaringin Timur menjadi daerah otonom pada tanggal 26 Juni 1959 9.
Pembentukan kabupaten ini diperkuat dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Tujuan utamanya adalah untuk mempercepat pembangunan dan pemerataan pelayanan publik di wilayah yang luas ini. Saat itu, Sampit ditetapkan sebagai ibu kota kabupaten, posisi yang strategis karena berada di tepi Sungai Mentaya dan memiliki pelabuhan yang menjadi pintu gerbang ekonomi regional 8 2.
Sejak awal pembentukannya, luas Kotawaringin Timur jauh lebih besar daripada sekarang. Seiring dengan dinamika otonomi daerah, pada tanggal 10 April 2002, Kabupaten Kotawaringin Timur mengalami pemekaran signifikan. Sebagian wilayah di barat dimekarkan menjadi Kabupaten Seruyan, dan sebagian wilayah di timur dimekarkan menjadi Kabupaten Katingan 8 9.
Setelah pemekaran tersebut, luas wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur yang tersisa adalah 15.541,75 km2 . Wilayah ini secara umum merupakan daerah aliran sungai (DAS) Mentaya dan terbagi menjadi 17 kecamatan, dengan Sampit sebagai pusat pemerintahannya yang terus berkembang.
Berikut adalah data perkembangan penduduk Kotawaringin Timur pasca pemekaran : 9
| Tahun | Jumlah Penduduk | Sumber |
|---|---|---|
| 2010 | 374.175 jiwa | Sensus Penduduk 2010 |
| 2020 | 428.900 jiwa | Sensus Penduduk 2020 |
| 2024 | 448.180 jiwa | Estimasi resmi Pemerintah |
Posisi geografis Sampit sangat strategis, berada di jalur transportasi yang menghubungkan kabupaten-kabupaten tetangga seperti Barito Selatan, Pulang Pisau, hingga Palangka Raya. Pelabuhan Sampit menjadi pintu keluar-masuk komoditas dan penumpang, terutama menuju Pulau Jawa dan sekitarnya. Motto kabupaten ini adalah “Habaring Hurung”, sebuah falsafah dari bahasa Dayak Ngaju yang berarti “Gotong Royong” atau saling membantu, mencerminkan semangat masyarakatnya yang majemuk 2 9.
Jejak sejarah panjang masih dapat ditemukan hingga kini. Meskipun pusat Kesultanan Kotawaringin berada di Kotawaringin Barat (Pangkalan Bun), pengaruhnya sangat terasa di Kotawaringin Timur. Di wilayah ini, kita dapat menjumpai makam-makam kuno bercorak Islam yang menjadi bukti penyebaran agama Islam, seperti makam di Mentaya Seberang (Seranau), Sungai Lenggana, dan Kota Besi 2. Situs-situs inilah yang menjadi penghubung fisik antara masa lampau yang gemilang dengan identitas Kotawaringin Timur saat ini.
Sejarah Kotawaringin Timur adalah sebuah mozaik yang indah, tersusun dari masa kerajaan kuno (Kerajaan Sungai Sampit), pengaruh kejayaan maritim Nusantara (Majapahit), fondasi pemerintahan dan penyebaran Islam dari Kesultanan Kotawaringin-Banjar, jejak kolonialisme dan perdagangan global, hingga perjuangan di era kemerdekaan. Dari sebuah kerajaan yang namanya disebut dalam kitab kuno, melalui tangan dingin para pedagang dan kesultanan, hingga menjadi kabupaten dengan segudang potensi, Kotawaringin Timur terus melangkah maju tanpa melupakan akar sejarahnya yang panjang. Warisan sejarah ini bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga modal berharga untuk membangun identitas dan masa depan yang lebih baik.